Sabtu, 11 Februari 2012

Sepatu roda(by dian)


Sepatu Roda


LAMBANG   :
Gambar lingkaran berwarna kuning berarti kesatuan dalam wadah kekeluargaan yang diikat dengan keaktifan di bidang olahraga sepatu roda. Gambar sepasang remaja berarti kegiatan olahraga ini ditunjang dan diikat oleh anak-anak dan remaja yang lincah, bergerak aktif dalam sportifitas pembinaan fisik da mental remaja Indonesia. Gambar obor/pelita dan lingkaran, sesuai dengan api abadi/obor olimpiade yang terus menyala menerangi dan memancar serta memberikan semangat terus menerus tiada putusnya dengan kesadaran berbahasa satu berbangsa satu dan bertanah air satu Indonesia.
SEJARAH   :
Olahraga sepatu roda berasal dari negeri Belanda, diciptakan sekitar abad ke 17 oleh seorang penggemar ice skating. Dia ingin mengubah permainan ice skating menjadi permainan yang dapat bergerak di atas tanah atau jalan keras.
Tahun 1763 Joseph Marlin seorang teknisi Belgia dan pembuat alat-alat musik mencoba berlari dengan peralatan ice skating yang dilengkapi dengan roda kecil dari besi, tapi tidak bias berkembang pada waktu itu karena ada larangan pemerintah Belanda bermain sepatu roda di jalan raya. Tahun 1863 sorang bernama James Leonard Plimton’s pencipta “rocking Skate yang kemudian ia patenkan menjadi sangat popular, ia kemudian dijuluki “Bapak Pencipta Sepatu Roda”.
Olahraga itu kemudian popular di Amerika, Inggris dan Austria. Tahun 1876 terbentuk organisasi sepatu roda di Inggris yang bernama NSA (The National Skating Association). Tahun 1924 berdiri organisasi sepatu roda Internasional dengan nama Federasi Internationale de Roller Skating (FIRS). Sekarang sudah menyebar di 5 benua dengan 42 anggota federasi nasional.
Kejuaraan dunia diadakan setiap dua tahun sekali dalam nomer Roller Speed Track, Artistic Roller Skating dan Roller Hockey, untuk Speed Roller Skating direncanakan diadakan kejuaraan setiap tahun di Indonesia. Masuknya sepatu roda di Indonesia ketika masa penjajahan Belanda yang membawa permainan itu ke Indonesia, kemudian menjalar pada anak-anak orang Indonesia yang kebetulan orang tuanya bekerja pada Belanda. Tahun 1978 muncul perkumpulan sepatu roda yang diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Djakarta (Imada), dan pada tanggal 7 Oktober 1979 terbentuk Pengda Perserosi DKI Jakarta. Pada tanggal 24 – 26 April 1981 dilaksanakan Munas Perserosi I, diikuti oleh 10 utusan Pengda Perserosi. Dan dalam Munas Perserosi I resmi terbentuk PB. Perserosi dengan 14 anggota Pengda yaitu Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Kaltim, Sulsel, Sulut, Sulteng, Riau, Bengkulu, dan DKI Jakarta.
PERATURAN PERTANDINGAN   :
Peraturan pertandingan berlaku untuk semua perlombaan sepatu roda di seluruh wilayah Indonesia. Peraturan perlombaan ini bersifat mengikat dan merupakan pedoman pokok bagi setiap anggota Perserosi yang mengikuti perlombaan sepatu roda.
Perlombaan sepatu roda dibagi dalam kelompok umur untuk putra dan putri, yaitu  :
A = kelompok 6 – 9 tahun
B = kelompok 10 – 12 tahun
C = kelompok 13 – 16 tahun
D = kelompok 17 tahun ke atas
E = kelompok bebas
Peserta haruslah anggota Perserosi Daerah, mempunyai tanda anggota Perserosi, memakai seragam perkumpulan, memakai nomer peserta dan harus sehat rohani dan jasmani. Nomor pertandingan dalam sepatu roda terdiri : sprint 200, 400, 500 meter, estafet, ketangkasan dan jarak menengah. Untuk ketangkasan dibagi beberapa nomor lagi yaitu : jumping, menerobos gawang, zig-zag, lompat ban, jumping balance, angka delapan, mundur, zig-zag melebar, lompat jauh dan membentuk huruf S.
Sumber  :  Buku Petunjuk dan Dat
ata Olahraga Nasional oleh KONI pada Tahun 1986.

Sepatu Roda Sapu Bersih 12 Emas
PALEMBANG, KOMPAS.com Tim sepatu roda Indonesia menjadi juara umum setelah berhasil menyapu bersih semua medali emas di SEA Games XXVI. Dari 12 nomor pertandingan, tim Indonesia berhasil mengumpulkan 12 emas, 11 perak, dan satu perunggu.
Empat medali emas terakhir diperoleh di Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (14/11/2011) ini, oleh Stevanus Wihardja (18) di nomor sprint 500 putra, Della Olivia (17) di nomor 500 meter putri, Erlangga Ardianza Wibowo di 10.000 meter putra, dan Anindya Ajeng Prasakita (25) 10.000 meter putri.
Pertandingan 10.000 meter putra berlangsung menegangkan. Beberapa kali terlihat aksi saling sentuh untuk mengganggu konsentrasi atlet di depannya. Bahkan, seorang atlet Thailand pingsan di lintasan karena kepanasan dan kelelahan.
Di putri, keunggulan stamina atlet Indonesia tampak menonjol. Peraih emas Ajeng Anindya Prasalita (25) dan peraih perak Sylvia Setiawan (21) berhasil meninggalkan pemain Singapura dan Malaysia hingga lebih dari lima putaran.
Pelatih Sepatu Roda Fitra Tara Mizar mengatakan, kunci kemenangan Indonesia terletak pada ketahanan fisik pemain yang lebih baik dari negara lainnya.
"Selama latihan delapan bulan, kami memang mengutamakan latihan ketahanan fisik. Sempat juga bersepeda Bandung-Semarang dan Bandung-Jakarta untuk itu," katanya.
Dominasi sepatu roda Indonesia terasa sejak pertandingan pertama, Sabtu (12/11/2011). Kecuali di sprint 300 meter putra, tim Indonesia yang terdiri dari 26 orang itu selalu berhasil merebut posisi pertama dan kedua di tiap nomor pertandingan. Tim hanya gagal memperoleh medali perak di nomor 300 meter putra dari atlet Thailand dan hanya mendapat medali perunggu.
Sepatu roda merupakan kali pertama sepatu dimainkan di ajang pesta olahraga tertinggi se-Asia Tenggara itu. Namun, belum jelas apakah olahraga akan dipertandingkan di SEA Games Myanmar tahun 2013 mendatang.






.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar